Header
BAntuan

Harmoni Dalam Perbedaan

Harmoni Dalam Perbedaan


Om Swastyastu

Om Awighnamastu namo siddham Om tanme manah Siva samkalpamastu
Umat Sedharma yang berbahagia, mari kita senantiasa mengucapkan angayubagia atas limpahan anugerah Ida Sanghyan Widhi Wasa, yang telah memberikan kita keselamatan, tiada halang dan pikiran yang penuh dengan kesucian.

Indonesia sebagai sebuah negeri kepulauan yang dkenal dengan Nusantara yang dihuni oleh penduduk yang majemuk, yang diwarnai dengan berbagai keragaman tradisi, budaya, bahasa, agama dan kepercayaan serta adat-istiadat. Ini harus kita syukuri bersama, bahwasanya Ida Sanghyang Widhi Wasa melimpahkan keindahan yang tiada tara, jika dibandingkan dengan negara lain. Sebagai contoh kecil, di Indonesia hampir semua jenis warna kulit manusia, mulai dari yang putih, coklat, kuning langsat, hitam ada, bentuk wajah dan bentuk rambut dari sabang hingga merauke sangat beragam , berbeda dengaj belahan Eropa misalnya yang sebagian besar penduduknya berkulit putih, afrika sebagian besar berkulit legam, dsn lain sebagimainya. Di satu sisi memang pelbagai perbedaan ini dapat menimbulkan persoalan kalau tidak berhasil ditata dengan baik. Namun di pihak yang lainnya, dapat menjadi sebuah kekayaan bangsa atau khazanah budaya bangsa (social and cultural capital) yang hendaknya dapat dipelihara dan dipertahankan menjadi warisan berharga bagi keberlangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Umat Hindu sebagai salah satu penghuni Bangsa yang mejemuk ini, tentu memikili dasar pijakan yang dapat digunakan sebagai pedoman untuk mengelola keberagaman ini, berangkat dari kesadaran bahwa sejatinya memang tak ada satupun manusia yang sempurna, dalam sesanti Jawa Kuna dinyatakan demikian; “….tan hana wwang swasta anulus…”- tiada manusia yang sempurna (no body perpect). Setiap insan selalu saja lebih di sisi yang satu sekaligus juga kurang di sisi lainnya. Inilah yang menjadi penyebab mengapa tidak ada satu manusiapun yang bisa bertahan hidup tanpa keberadaan orang lain, dan mahluk lainnya.

Manusia digambarkan seperti seekor burung yang bersayap sebelah, tak akan mungkin bisa terbang. Hanya ketika ia mau memeluk penuh kasih orang lain, ia akan bisa mengarungi kehidupan ini dengan baik.

Mau tidak mau ia mesti membuka diri terhadap keberadaan orang lain dan mahkuk lainnya, karena kebenaran sejatinya berhembus dari berbagai arah, sebagaimana hembusan udara menyapa kita. Hal ini sejalan dengan doa yang sering diucapkan oleh umat Hindu: Om Ano Badrah Kratavoyantu Visvatah- Semoga pikiran yang benar datang dari segala penjuru. Hanya dengan membuka diri kita akan dimampukan untuk saling belajar, saling melengkapi dan saling membenahi.

Terkait Hidup harmoni, Susastra Weda memberikan Umat Hindu Guide (pedoman) bagaimana ia wajib hidup saling menghargai, hal ini dituangkan pada Atharvaveda VII.53.1: “Samjnanam nah svebhih samjnanam aranebhih “

Yang artinya: Hendaknya harmoni dengan penuh keintiman di antara kamu (intern sesama Hindu), demikian pula dengan orang-orang yang dikenal maupun orang asing sekalipun.

Dari petikan Mantra di atas, sangat jelas sekali, bahwa kehidupan harmoni tidak saja harus dijalin dengan sesama umat beragama Hindu, tetapi juga dengan orang lain bahkan dengan orang yang belum kita kenal sekalipun, umat Hindu diwajibkan untuk mengembangkan kehidupan harmoni.

Ia yang tidak membenci semua mahluk, Yang senantiasa bersikap ramah dan bersahabat, Bebas dari rasa keakuan (egoisme) dan kepemilikkan serta pemaaf, Berkeadaan sama dalam kesedihan maupun kesenangan. Demikianlah sabda bijak ini senantiasa berkumandang dari masa ke masa, agar kita selalu dapat hidup harmoni.

Umat sedharma yang berbahagia. Harus disadari bahwasanya Bumi merupakan tempat tinggal (seluruh umat manusia dan mahluk lainnya), sesungguhnya kita merupakan sebuah keluarga besar (Vasudhaiva Kutumbhakam), kita hidup di bawah langit dan berpijak di pertiwi yang sama, yaitu Bangsa Indonesia yang Indah ini. Dan Tuhan sebagai orang tua kita semua. Walau kenyataannya semua orang berbicara berbeda-beda, dan menganut agama berbeda-beda (pula), namun semuanya seperti dalam satu kandang sapi, semogalah kita tiada saling membenci.

Laksana Tubuh kita yang terdiri dari beragam organ, dengan masing-masing fungsinya, atau seperti seperangkat gambelan (alat musik) yang menghasilkan nada berbeda. Namun semuanya hadir untuk salah melengkapi sehingga menghasilkan mozaik kehidupan yang dinasmis, indah dan harmoni. Demikian pula manusia yang berbeda semuanya hadir membawa bakat, dan guna yang berbeda namun semuanya memiliki misi/tujuan hidup yang sama yakni hidup bahagian dan terhindar dari penderitaan baik jasmani dan rohani.

Untuk itu tak ada alasan bagi kita untuk mengklaim sebuah kebenaran, apalagi mengembangkan rasa dengki, picik, fanatisme sempit.

Harus kita sadari kembali Bahwasanya Tuhan Yang Maha Esa meresapi semua mahluk (Isvara sarva bhutanam), dan semua kenampakan/keberadaan yang ada di semesta ini sejatinya adalah wunud Kosmis dari Tuhan (Visva Virat Svarupa), demikian Veda menegaskan kepada kita semua.

Konsep ini tentu mengisyaratkan bahwasanya kita tidak memiliki legitimasi untuk membenci orang lain, karena didalam setiap mahluk ada esensi Ketuhanan yang Sama.

Itu sebabnya tidaklah salah pendiri Bangsa ini menjadikan Sesanti Tutur Sutasoma sebagai perekat keberagaman Indonesia: Bhineka Tunggal Ika.

Dalam kehidupan sosial tetua di Bali juga dengan sangat tegas menganjurkan kita semua agar selalu bisa hidup rukun Saling Asih, Saling Asuh dan Saling Asah. Dan ketika hendak memutuskan suatu persoalan dengan mendasarkan pada musyawarah (Paras-Paros), senantiasa berbagi penuh kasih tatkala suka maupun duka (salulung sabhayantaka), dan segala hal dipecahkan dan menjadi tanggung jawa bersama (sarpanaya).

Untuk itu sekali lagi saya mengajak untuk selalu dapat Hidup dalam harmoni dan kerukunan. Hendaknyalah kita bersatu dan bekerja sama. Berbicara dengan satu bahasa (Bahasa Kasih Sayang) sehingga kita bisa berkembang, maju bersama-sama dalam bingkai saling asih, saling asuh, dan saling asah. Seperti apa yang telah dicontohkan oleh orang-orang suci di masa lalu yang telah melaksanakan kewajibannya di jalan kebenaran sejati, semestinya demikianlah kita tidak goyah dan terbawa egoisme sempit.

“Tujuan pengetahuan adalah kearifan, Tujuan peradaban adalah kesempurnaan, Tujuan kebijaksanaan adalah kebebasan, dan
Tujuan pendidikan adalah karakter yang baik ”

Mari kita kembangkan sikap dan sifat Mencintai Semua dan Tidak Membenci siapapun (Love ever-Hurt Never)

Dengan demikian kitan akan dimungkinkan membangun peradaban kehidupan yang lebih santun, lebih beradab dan berkesalehan sosial. Hanya dengan hidup Harmoni kita bisa tumbuh menjadi bangsa yang maju dan sejahtera. Karena kebencian hanya akan berujung pada penderitaan dan perpecahan.

Om Santih Santih Santih Om

Oleh: I Wayan Sudarma (Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bangli)

There are 2 comments

  1. November 29, 2021, 9:07 pm
  2. November 29, 2021, 9:08 pm

Pengaduan Telah Kami Terima,
Mohon Menunggu Konfirmasi