Header
BAntuan

Penulis: Kemenag Bangli

KERUKUNAN HIDUP BERAGAMA

MEMPERKOKOH PERSATUAN DAN KESATUAN BANGSA DALAM MEWUJUDKAN TUJUAN PEMBANGUNAN NASIONAL

Berkerja keraslah untuk kejayaan tumpah darah dan bangsamu yang menggunakan berbagai bahasa daerah. Berilah penghargaan yang pantas kepada mereka yang menganut kepercayaan(agama) yang berbeda. Hargai mereka seluruhnya seperti halnya satu keluarga yang tinggal dalam satu rumah. Curahkanlah kasih sayangmu, bagaikan induk sapi yang tidak pernah meninggalkan anaknya. Ribuan sungai mengalirkan kekayaan yang memberikan kesejahtraan kepada kamu, putra-putrinya. Atharvaveda XII.1.45.

A. Pendahuluan
Bangsa Indonesia yang berbhineka tunggal ika dalam berbagai aspeknya dari mulai suku bangsa, bahasa, tradisi dan agamanya yang berbeda-beda, di satu pihak perbedaan itu nampak sangat indah bagaikan warna-warni bunga di taman, namun akan sangat rawan bila di negara ini tidak tumbuh saling pengertian antar warga negara atau rakyat Indonesia yang majemuk itu. Demikian pula terhadap agama yang berbeda-beda, bila agama yang dianutnya itu dipahami secara sempit, cendrung menjadikan umatnya fanatik sempit, menganggap agama sendiri yang paling baik dan agama orang lain lebih jelek atau tidak baik. Hal inilah yang sangat berbahaya yang dapat mengancam kesatuan dan persatuan bangsa. Bila persatuan dan kesatuan bangsa terancam, mniscaya kita yang tengah membangun guna mewujudkan tujuan nasional karena dihantui oleh masalah-masalah yang sangat berbahaya menjadikan konsentrasi daya dan dana adalah untuk mengatasi hal-hal tersebut.
Kita patut memanjatkan puja dan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas perkenan dan karunia-Nya, bangsa Indonesia telah semakin mantap dan semakin kokoh dalam mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa. Kita menyukuri kebijakan, wawasan dan pengorbanan para pendiri bangsa ini (The Founding Fathers) yang telah menetapkan bentuk negara kesatuan Republik Indonesia dengan semangat persatuan dan kesatuan bangsa yang berdasarkan Pancasila. Sejarah telah pula membuktikan bahwa, hampir dua puluh tahun sejak kemerdekaan bangsa, negara kita masih menghadapi masalah-masalah yang dapatmengancam persatuan dan kesatuan bangsa. Klimak dari pengalaman sejarah di masa yang lalu adalah ketika terjadi pembrontakan PKI/G.30 S. yang mengancam stabilitas nasional dan persatuan dan kesatuan bangsa. Atas dasar pengalaman pahit perjalanan sejartah bangsa, maka seluruh rakyat Indonesia melalui wakil-wakilnya di MPR vberhasil menetapkan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila yang disingkat dengan P.4. Demikianlah sejak tahun berikutnya dilaksanakan penataran-penataran P.4 dengan berbagai tipenya (A,B danC) dan kemudian dengan Pola Pendukungnya (25, 40, 120 jam) dan sebagainya, hampir seluruh rakyat Indonesia telah mengikuti penataran P.4 dan dampaknya sangat positip, yakni emakin disadari betapa pentingnya pembangunan di bidang ideologi yang kini semakin hari semakin mantap, termasuk pula dalam pengamalan Sila I Pancasila berupa hormat menghormati dan bekerja sama antara pemeluk agama dan penganut-penganut kepercayaan yang berbeda-beda sehingga terbina kerukunan hidup beragama yang semakin mantap.
B. Maksud dan tujuan
Maksud disusunnya tulisan singkat ini adalah dalam rangka meningkatkan pembinaan umat beragama khususnya umat beragama Hindu di lingkuangan Kodam IX/Udayana dan tujuan yang ingin dicapai adalah untuk meningkatkan kerukunan dan kerja sama intern umat beragama, antar umat beragama dan umat beragama dengan pemerintah di samping untuk memupuk kesadaran untuk mendahulukan persatuan dan kesatuan bangsa yang semakin kokoh dan jaya serta dalam membantu proses terwujudnya kesejahtraan hidup masyarakat sebagai realisasi dari tujuan pembangunan nasional. Dengan demikian penjabaran topik pembahasan meliputi tiga hal, yakni : bagaimana meningkatkan kerukunan dan kerja sama intern umat beragama, antara umat beragama dan umat beragama dengan pemerintah, bagaimana seharusnya mendahulukan kepentingan umum dalam upaya memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa serta bagaimana upaya mempercepat proses mewujudkan kesejahtraan masyarakat.

C. Upaya meningkatkan kerukunan dan kerja sama umat beragama
Untuk dapat meningkatkan kerukunan dan kerja sama intern umat beragama, antar umat beragama dan antara umat beragama dengan pemerintah, terlebih dahulu kiranya perlu dipahami pengertian atau konsepsi kerukunan hidup beragama, aplikasi kerukunan hidup beragama dan kerja sama intern, antar dan anatara umat beragama yang untuk jelasnya dapat diuraikan sebagai berikut :

  1. Pengertian kerukunan hidup umat beragama
    Kerukunan hidup beragama adalah kondisi hidup dan kehidupan yang mencerminkan suasana damai, tertib, tentram dan sejahtra, hormat menghormati dan harga menghargai, tenggang rasa sesuai dengan ajaran agama, baik sebagai individu, maupun anggota masyarakat yang taat dan saleh, berbudi pekerti yang luhur yang merupakan cerminan pengamalan ajaran agama dan Pancasila.
    Kerukunan hidup beragama di Indonesia telah dirumuskan ke dalam tiga tahap kerukunan, yaitu kerukunan umat pemeluk agama yang sama (intern umat beragama), kerukunan antar pemeluk agama yang berbeda (kerukunan antar umat beragama)dan kerukunan umat beragama dengan pemerintah. Kerukunan intern umat beragama adalah kerukunan dalam mengamalkan agama yang sama oleh umat yang sama pula yang dalam kurun waktu terakhir ini nampak ada gejala kurang sehat yang sebenarnya berangkat dari pemahaman atau penguasaan terhadap ajaran agama yang kurang komprehensif.Pemahaman yang parsial atau sepotong sepotong mengakibatkan perbedaan persepsi dan kurang saling pengertian intern umat beragama. Kerukunan dan kerja sama antara umat beragama yang berbeda, sudah semakin nampak hasilnya, hal ini karena disadari bersama oleh majelis-majelis agama masing-masing sesuai dengan arahan pemerintah R.I. Gangguan kerukunan antar umat beragama sudah semakin dapat dicegah dan ditangkal sedini mungkin, namun demikian patut kita akui masih terjadi gangguan atau kerikil-kerikil sandungan yang perlu dilenyapkan sama sekali dan hal patut dilakukan oleh semua pihak, terutama majelis-majelis agama masing-masing bersama-sama pemerintah atau instansi/aparat yang terkait untuk membina kembali umatnya masing-masing. Kondisi ini harus diupayakan terus.
    Kerukunan antara umat beragama dengan pemerintah dapat diartikan bahwa pemerintahtidak melakukan hal – hal yang bertentangan dengan ajaran agama yang dianut di Indonesia. Demikian juga umat beragama di Indonesia tidak mengembangkan hal-hal yang bertentangan dengan program pemerintah. Secara teoritis gangguan kerukunan pemerintah dengan umat beragama di Indonesia rasanya tidak mungkin terjadi.Hal ini disebabkan adalah aparat pemerintah adalah orang-orang yang memeluk agama,namun demikiasn patut disadari kadar keberagamaan seseorang tidaklah sama. Aparat pemerintah menjadi teladan dalam moral agama. Untuk tidak terjadinya benturan dengan anatara pemerintah dengan umat beragama perlu adanya koordinasi dan sinkronisasi bersama-sama.
    Tiga kerukunan umat beragama di Indonesia hakekatnya bukanlah merukunkan atau melebur ajaran agamanya ke dalam suatu agama baru, melainkan merukunkan umatnya dan sedapat mungkin menggalang kerja sama yang erat mengingat kita satu tanah air,bangsa dan negara. sasaran utama kerukunan umat beragama adalah sepenuhnya untuk menunjang stablitas nmasional yang mantap dan dinamis serta tetap tegak dan kokohnya persatuan dan kesatuan bangsa. Dengan demikian umat beragama wajib memberikan kontribusinya untuk menyukseskan pembangunan nasional.
  2. Aplikasi kerukunan hidup beragama
    Aplikasi kerukunan hidup beragama baik intern, antar dan antara umat beragama dengan pemerintah dapat diwujudkan melalui berbagai aktivitas hidup sosial kemasyarakatan dan dalam hubungannya dengan kehidupan berbangsa dan bernegara. Perbedaan keyakinan tidak harus mengorbankan dan menginjak hak azasi manusia lainnya, karena memang perbedaan itu ada baik dalam skala kecil maupun dalam spektrum yang luas. Perbedaan itu bukan untuk dipertentangkan, tetapi digunakan dalam upaya memperkokoh kesatuan dan persatuan bangsa.
    Setuju dalam perbedaan adalah landasan dalam hidup bersama dan hal ini memberi motivasi berkembang keaneka ragaman seni budaya dalam masyarakat. Perbedaan agama yang dianut di Indonesia tidaklah merupakan kendala bilamana agama yang dipeluk itu dapat dijadikan kekuatan bangsa di bidang spiritual. Kedudukan agama- agama di Indonesia sebagai kekuatan spiritual bangsa dapat mengarahkan pikiran dan prilaku bangsa Indonesia untuk mencegah dan menghindari kerawanan yang ditimbulkan oleh perbedaan yang dikandung oleh agama-agama di Indonesia.
    Semua agama mengarahkan umat-Nya untuk menjadi umat yang iman (memiliki Sradha) yang mantap dan taqwa (Bhakti) kepada Tuhan Yang Maha Esa.Masing-masing ajaran agama menuntun umatnya untuk menjadi umat beragama yang baik dan sekaligus menjadi warga negara yang baik yang di dalam termilogi Hindu disebut Dharma Agama dan Dharma Nagara.
  3. Kerja sama umat beragama
    Kerukunan umat beragama tidak terbatas hanya hidup berdampingan dalam suasana yang rukun namun lebih dari hal tersebut, yaitu meningkatkan kerja sama intern umat beragama, antar umat beragama dan umat beragama dengan pemerintah. banyak hal yangdapat dilakukan misalnya dalam upaya mengentaskan kemiskinan rohani atau mental spiritual, sebab bila seseorang miskin di bidang mental spiritual, ini akan mengancam kehidupan pribadi atau lingkungan yang bersangkutan. demikian pula dalam upaya meningkatkan kualitas Sumber daya manusia (SDM) masing-masing majelis agama dapat melakukan hal tersebut. Demikian pula berpartisipasi menyukseskan program pemerintah seperti mewujudkanGerakan Disiplin Nasional (GDN) mewujudkan keluarga sejahtra dan bahagia dan lain-lain.

D. Mendahulukan kepentingan umum demi kokohnya persatuan dan kesatuan bangsa
Sebenarnya setiap ajaran agama mengajarkan umatnya untuk tidak mementingkan diri, dia harus ikhlas berkorban terlebih lagi untuk kepentingan nusa, bangsa dan negara. Setiap ajaran agama mengajarkan umatnya untuk menjadi umat beragama yang baik sekaligus menjadi warga negara yang patuh dan taat kepada negara. Di dalam ajaran agama Hindu yang bersumber pada kitab suci Veda dituntut kepada umat-Nya untuk mencintai tanah airnya, membela bangsa dan negaranya. Perhatikanlah kutipan mantra-mantra kitab suci Veda berikut :
Vayaṁ rāstre jāgryāma purohitāḥ
Yajurveda IX.23.
(Setiap orang hendaknya senantiasa waspada dan
bergerak maju untuk melindungi bangsa dan negaranya)
Vayaṁ tubhyaṁ balihṛtaṁ syāma
Atharvaveda XII.1.62.
(Hendaknya bersedia mengorbankan hidup
untuk kemuliaan bangsa dan negara).

Mātā bhūmiḥ putro ahaṁ pṛthivyāḥ
Atharvaveda XII.1.12.
(Tanah air ini adalah ibu kita, dan kita adalah
putra-putrinya yang setia kepadanya).
Arcan anu svarājyam
Ṛgveda I.80.1.
(Senantiasalah kamu hormat terhadap kemerdekaan
bangsamu)
Memperhatikan kutipan mantra-mantra kitab suci Veda tersebut di atas, maka jelaslah untuk kepentingan tanah air, bangsa dan negara setiap orang hendaknya bersedia mengorbankan dirinya. Di dalam susastra Hindu lainnya sangat banyak kita jumpai doktrin atau ajaran yang berkaitan dengan patriotisme, misalnya dalam kitab-kitab Ramayana, Mahabharata, kitab-kitab Purana dan lain-lain. Bila benar-benar seseorang memahami ajaran agamanya dengan mantap dan tumbuh kecintaan untuk mengamalkannya maka usaha untuk mendahulukan kepentingan umum dari pada kepentingan pribadi adalah sangat mulia. Untuk tegaknya ibu pertiwi, demi kesatuan dan persatuan bangsa, seseorang hendaknya sedia mengorbankan jiwa dan raganya. Di dalam Ramayana karya Valmiki disebutkan : “Orang hendaknya bersedia gugur demi negara dan bangsa karena baginya lebih mulia dari pada kemuliaan sorga”
E. Usaha mewujudkan kesejahtraan masyarakat
Adalah menjadi tanggung jawab bagi setiap warga negara untuk memajukan dan mewujudkan kesejahtraan masyarakat. Usaha mewujudkan kesejahtraan masyarakat adalah melalui pelaksanaan tugas pokok masing-masing atau tugas dan kewajiban yang di dalam bahasa Sanskerta disebut Svadharma. Dengan pelaksanaan tugas masing-masing sebenarnya kita telah turut mewujudkan kesejahtraan masyarakat. Banyak program pemerintah dan masyarakat yang perlu mendapat dukungan dan partisipasi setiap warga masyarakat, misalnya ABRI telah lama merintis ABRI Masuk Desa (AMD) yang bertujuan untuk mempercepat proses kesejahtraan masyarakat. Kesejahtraan masyarakat tidak hanya melalui bantuan material, sandang, pangan dan papan, tetapi juga membina mereka untuk menjadi umat beragama dan sekaligus insan Pancasila adalah sangat diperlukan.
Memberikan ketrampilan praktis, mendayagunakan faktor lingkungan alam sekitar dan sebagainya adalah rintisan untuk menyejahtrakan masyarakat. Stabilitas akan mantap bilamana kesejahtraan masyarakat meningkat, sebaliknya bilamana stabilitas tidak mantap, maka akan sulit pula mewujudkan kesejahtraan masyarakat.

F. Kerukunan beragama menurut ajaran Hindu
Agama mengajarkan kepada umatnya untuk meningkatkan Sraddha dan Bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa dan sekaligus mendayagunakan Sradha dan Bhakti itu untuk mengatasi berbagai persoalan hidup ini untuk kembali menghadap-Nya setelah mampu menuntaskan tugas dan kewajiban di dunia ini. Salah satu kewajiban kita menurut ajaran Hindu adalah melakukan pelayanan atau Sevana kepada sesama umat manusia dan makhluk lainnya dan kewajiban yang lainnya adalah melakukan pemujaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Keharmonisan hubungan antara manusia (Praja) dengan sesamanya, dengan alam lingkungan (Kamadhuk) dan secara vertikal kepada Tuhan Yang Maha Esa di dalam ajaran agama Hindu disebut Trihita Karana. Trihita Karana artinya tiga unsur yang dapat menimbulkan kebahagiaan, yaitu :

  1. Tuhan Yang Maha Esa
  2. Manusia
  3. Alam tempat manusia hidup.
    Aktivitas pemujaan kepada Tuhan Yang Mahaesa, pelayanan kepada sesama dan melestarikan alam lingkungan melahirkan kesatuan-kesatuan sosial keagamaan dalam masyarakat Hindu sebagai wahana untuk mewujudkan Trihita Karana. Oleh karena umat Hindu mengenal adanya berbagai tempat pemujaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan salah satu dimensi tempat pemujaan Tuhan Yang Maha Esa adalah kerukunan hidup disamping pemujaan dan pelayanan.
    Dari sistem pemujaan kepada Tuhan Yang Maha Esa itu, umat Hindu mengenal adanya empat tahap kerukunan, yaitu : kerukunan keluarga, kerukunan teritorial, kerukunan profesional dan kerukunan universal. Keempat tahap kerukunan diterapkan dalam sistem pemujaan Hindu.
    Kerukunan melalui dimensi tempat pemujaan ini adalah sarana memupuk kerukunan intern umat sedang kerukunan antara umat beragama, di dalam kitab suci Veda sebagai telah kami kutipkan pada awal tulisan ini adalkah dengan menghormati keyakinan yang berbeda-beda. Kitab suci Bhagavadgita dengan tegas menyatakan : “Dengan jalan apapun engkau memuja Aku, melalui jalan itu Aku menerimamu”. Dari pernyataan ini agama Hindu meyakini semua ajaran agama yang diturunkan oleh Tuhan Maha Esa adalah jalan yang terbaik yang dapat ditempuh oleh umat manusia. Kitab-kitab Upanisad menggambarkan bahwa berbagai jalan atau keyakinan itu adalah ibarat sungai-sungai yang menuju laut, demikian air bertemu di tengah-tengah lautan, maka air-air sungai yang mengalir itu lebur di dalam samudra, tidak ada lagi identitas air sungai tertentu di tengah samudra. Demikianlah seseorang dihadap Tuhan Yang Maha Esa menikmati kebahagiaan yang sejati dan tyidak pernah ditanyakan apakah ia penganut ajaran yang mana. Di dalam agama Hindu semua kebajikan terlebih lagi yang diturunkan oleh Tuhan Yang Maha Esa adalah Dharma. Di dalam Dharma oarng tidak ditanyakan lagi asal muasalnya atau keyakinannya sebab dengan Dharma umat manusia akan sampai kepada-Nya.
    Kerukunan umat beragama dengan pemerintah di dalam ajaran Hindu dicerminakan melalui ajaran Guru Bhakti, yakni hormat dan bhakti kepada Guru Visesa yakni pemerintah yang bekerja keras untuk mensejahtrakan bangsanya. Ketaatan kepada pemerintah merupakan salah satu disiplin yang harus dijunjung tinggi. Kedudukan pemerintah sama halnya dengan orang tua sendiri, dan setiap anak harus taat dan patuh kepada perintah orang tuanya. Inilah yang melandasi setiap umat Hindu harus patuh kepada ketentuan perundang-undangan, hukum dan kebijakan pemerintah.
    G. Penutup
    Demikian tulisan singkat ini kiranya dapat dikembangkan dalam pembahasan di lapangan. Semoga melalui kerukunan hidup beragama ini bangsa Indonesia semakin kokoh dan tangguh dalam usaha meningkatkan kesejahtraan dan kebahagiaan warga negaranya sebagai realisasi pencapaian tujuan pembangunan nasional.

Harmoni Dalam Perbedaan


Om Swastyastu

Om Awighnamastu namo siddham Om tanme manah Siva samkalpamastu
Umat Sedharma yang berbahagia, mari kita senantiasa mengucapkan angayubagia atas limpahan anugerah Ida Sanghyan Widhi Wasa, yang telah memberikan kita keselamatan, tiada halang dan pikiran yang penuh dengan kesucian.

Indonesia sebagai sebuah negeri kepulauan yang dkenal dengan Nusantara yang dihuni oleh penduduk yang majemuk, yang diwarnai dengan berbagai keragaman tradisi, budaya, bahasa, agama dan kepercayaan serta adat-istiadat. Ini harus kita syukuri bersama, bahwasanya Ida Sanghyang Widhi Wasa melimpahkan keindahan yang tiada tara, jika dibandingkan dengan negara lain. Sebagai contoh kecil, di Indonesia hampir semua jenis warna kulit manusia, mulai dari yang putih, coklat, kuning langsat, hitam ada, bentuk wajah dan bentuk rambut dari sabang hingga merauke sangat beragam , berbeda dengaj belahan Eropa misalnya yang sebagian besar penduduknya berkulit putih, afrika sebagian besar berkulit legam, dsn lain sebagimainya. Di satu sisi memang pelbagai perbedaan ini dapat menimbulkan persoalan kalau tidak berhasil ditata dengan baik. Namun di pihak yang lainnya, dapat menjadi sebuah kekayaan bangsa atau khazanah budaya bangsa (social and cultural capital) yang hendaknya dapat dipelihara dan dipertahankan menjadi warisan berharga bagi keberlangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Umat Hindu sebagai salah satu penghuni Bangsa yang mejemuk ini, tentu memikili dasar pijakan yang dapat digunakan sebagai pedoman untuk mengelola keberagaman ini, berangkat dari kesadaran bahwa sejatinya memang tak ada satupun manusia yang sempurna, dalam sesanti Jawa Kuna dinyatakan demikian; “….tan hana wwang swasta anulus…”- tiada manusia yang sempurna (no body perpect). Setiap insan selalu saja lebih di sisi yang satu sekaligus juga kurang di sisi lainnya. Inilah yang menjadi penyebab mengapa tidak ada satu manusiapun yang bisa bertahan hidup tanpa keberadaan orang lain, dan mahluk lainnya.

Manusia digambarkan seperti seekor burung yang bersayap sebelah, tak akan mungkin bisa terbang. Hanya ketika ia mau memeluk penuh kasih orang lain, ia akan bisa mengarungi kehidupan ini dengan baik.

Mau tidak mau ia mesti membuka diri terhadap keberadaan orang lain dan mahkuk lainnya, karena kebenaran sejatinya berhembus dari berbagai arah, sebagaimana hembusan udara menyapa kita. Hal ini sejalan dengan doa yang sering diucapkan oleh umat Hindu: Om Ano Badrah Kratavoyantu Visvatah- Semoga pikiran yang benar datang dari segala penjuru. Hanya dengan membuka diri kita akan dimampukan untuk saling belajar, saling melengkapi dan saling membenahi.

Terkait Hidup harmoni, Susastra Weda memberikan Umat Hindu Guide (pedoman) bagaimana ia wajib hidup saling menghargai, hal ini dituangkan pada Atharvaveda VII.53.1: “Samjnanam nah svebhih samjnanam aranebhih “

Yang artinya: Hendaknya harmoni dengan penuh keintiman di antara kamu (intern sesama Hindu), demikian pula dengan orang-orang yang dikenal maupun orang asing sekalipun.

Dari petikan Mantra di atas, sangat jelas sekali, bahwa kehidupan harmoni tidak saja harus dijalin dengan sesama umat beragama Hindu, tetapi juga dengan orang lain bahkan dengan orang yang belum kita kenal sekalipun, umat Hindu diwajibkan untuk mengembangkan kehidupan harmoni.

Ia yang tidak membenci semua mahluk, Yang senantiasa bersikap ramah dan bersahabat, Bebas dari rasa keakuan (egoisme) dan kepemilikkan serta pemaaf, Berkeadaan sama dalam kesedihan maupun kesenangan. Demikianlah sabda bijak ini senantiasa berkumandang dari masa ke masa, agar kita selalu dapat hidup harmoni.

Umat sedharma yang berbahagia. Harus disadari bahwasanya Bumi merupakan tempat tinggal (seluruh umat manusia dan mahluk lainnya), sesungguhnya kita merupakan sebuah keluarga besar (Vasudhaiva Kutumbhakam), kita hidup di bawah langit dan berpijak di pertiwi yang sama, yaitu Bangsa Indonesia yang Indah ini. Dan Tuhan sebagai orang tua kita semua. Walau kenyataannya semua orang berbicara berbeda-beda, dan menganut agama berbeda-beda (pula), namun semuanya seperti dalam satu kandang sapi, semogalah kita tiada saling membenci.

Laksana Tubuh kita yang terdiri dari beragam organ, dengan masing-masing fungsinya, atau seperti seperangkat gambelan (alat musik) yang menghasilkan nada berbeda. Namun semuanya hadir untuk salah melengkapi sehingga menghasilkan mozaik kehidupan yang dinasmis, indah dan harmoni. Demikian pula manusia yang berbeda semuanya hadir membawa bakat, dan guna yang berbeda namun semuanya memiliki misi/tujuan hidup yang sama yakni hidup bahagian dan terhindar dari penderitaan baik jasmani dan rohani.

Untuk itu tak ada alasan bagi kita untuk mengklaim sebuah kebenaran, apalagi mengembangkan rasa dengki, picik, fanatisme sempit.

Harus kita sadari kembali Bahwasanya Tuhan Yang Maha Esa meresapi semua mahluk (Isvara sarva bhutanam), dan semua kenampakan/keberadaan yang ada di semesta ini sejatinya adalah wunud Kosmis dari Tuhan (Visva Virat Svarupa), demikian Veda menegaskan kepada kita semua.

Konsep ini tentu mengisyaratkan bahwasanya kita tidak memiliki legitimasi untuk membenci orang lain, karena didalam setiap mahluk ada esensi Ketuhanan yang Sama.

Itu sebabnya tidaklah salah pendiri Bangsa ini menjadikan Sesanti Tutur Sutasoma sebagai perekat keberagaman Indonesia: Bhineka Tunggal Ika.

Dalam kehidupan sosial tetua di Bali juga dengan sangat tegas menganjurkan kita semua agar selalu bisa hidup rukun Saling Asih, Saling Asuh dan Saling Asah. Dan ketika hendak memutuskan suatu persoalan dengan mendasarkan pada musyawarah (Paras-Paros), senantiasa berbagi penuh kasih tatkala suka maupun duka (salulung sabhayantaka), dan segala hal dipecahkan dan menjadi tanggung jawa bersama (sarpanaya).

Untuk itu sekali lagi saya mengajak untuk selalu dapat Hidup dalam harmoni dan kerukunan. Hendaknyalah kita bersatu dan bekerja sama. Berbicara dengan satu bahasa (Bahasa Kasih Sayang) sehingga kita bisa berkembang, maju bersama-sama dalam bingkai saling asih, saling asuh, dan saling asah. Seperti apa yang telah dicontohkan oleh orang-orang suci di masa lalu yang telah melaksanakan kewajibannya di jalan kebenaran sejati, semestinya demikianlah kita tidak goyah dan terbawa egoisme sempit.

“Tujuan pengetahuan adalah kearifan, Tujuan peradaban adalah kesempurnaan, Tujuan kebijaksanaan adalah kebebasan, dan
Tujuan pendidikan adalah karakter yang baik ”

Mari kita kembangkan sikap dan sifat Mencintai Semua dan Tidak Membenci siapapun (Love ever-Hurt Never)

Dengan demikian kitan akan dimungkinkan membangun peradaban kehidupan yang lebih santun, lebih beradab dan berkesalehan sosial. Hanya dengan hidup Harmoni kita bisa tumbuh menjadi bangsa yang maju dan sejahtera. Karena kebencian hanya akan berujung pada penderitaan dan perpecahan.

Om Santih Santih Santih Om

Oleh: I Wayan Sudarma (Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bangli)

Tri Parartha Sebagai Dasar Dalam Kehidupan Berbhinneka

Om Swastyastu


Om mano badrah krtavo yantu visvatah
Rasa angayu bagya serta puji syukur saya panjatkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, karena atas asung kertha wara nugraha Beliau, kita masih keadaan sehat dan tanpa kekurangan suatu apapun. Pada kesempatan yang maha mulia ini saya akan menyampaikan sebuah dharma wacana yang berjudul “Tri Parartha, Sebagai Dasar Dalam Kehidupan Berbhinneka”.
Seorang Mahakawi yang bergelar Mpu Tantular dalam karyanya Kitab Sutasoma menyatakan: “ Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa” (berbeda-beda itu, tetapi pada hakekatnya adalah satu, tidak ada kebenaran yang kedua).
Sebuah contoh, Pak Nyoman pagi hari pergi ke kantor mengenakan seragam dinas kepolisian disebutlah ia “Pak Polisi”, sepulang dari kantor ia mengganti pakaiannya dan mengambil cangkul lalu pergi ke sawah, maka disebutlah ia “Pak Tani”, ketika hari senja ia kembali ke rumah untuk berkumpul bersama putra-putri dan istrinya, disebutlah ia “ayah dan suami”. Yang disebut Pak Polisi, Pak Tani, Ayah dan Suami beliau adalah satu, yaitu Pak Nyoman.
Contoh lain dalam lingkup yang lebih luas, kita menjumpai tata cara mengamalkan Agama Hindu yang didukung dengan tata cara adat istiadat Budaya Bali. Di Pulau Jawa tentunya didukung dan diterapkan sesuai dengan adat istiadat Jawa. Demikian pula halnya di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan berbagai daerah lainnya. Antara satu orang dengan orang lain, antara satu daerah dengan daerah lain, itu berbeda. Walaupun kita sama-sama Hindu, tetapi cara pengamalannya yang berbeda.
Kita simak petikan sloka yang tertulis dalam Bhagavadgita: IV-11 berikut:
ये यथा मां प्रपद्यन्ते तांस्तथैव भजाम्यहम् |
मम वर्त्मानुवर्तन्ते मनुष्या: पार्थ सर्वश: ||
ye yathā māṁ prapadyante
tāns tathaiva bhajāmyaham
mama vartmānuvartante
manuṣhyāḥ pārtha sarvaśaḥ

Terjemahan: Jalan manapun yang ditempuh manusia kepadaku semuanya ku terima. Dari mana-mana mereka semua menuju jalanku.
Lantas mengapa justru perbedaan itu senantiasa menimbulkan perpecahan?
Kita ketahui bersama, berbagai macam hiruk pikuk kehidupan begitu jelas terpangpang di depan mata. Coba kita merenung sejenak,bagaimana sepak terjang manusia sekarang dalam menjalani kehidupan ini, tidak jarang kita melihat di media massa maupun dilingkungan tempat tinggal kita berbagai macam peristiwa yang membuat kita miris dan tercengang menyaksikanya.

Ada ungkapan indah dari seorang filusuf China: Composius yang hidup pada abad ke- 400 SM, yaitu:
“Dengan melihat aku tahu, dengan mendengar aku mengerti, dengan menjalani aku paham”.
Dalam realita, ada yang mengagung-agungkan Tuhannya sebagai yang paling mulia sehingga menjelek-jelekkan kepercayaan atau agama lain, ada yang menganggap lingkungan daerahnya yang paling bagus sehingga daerah lain merasa tidak perlu untuk dijaga, tidak perlu untuk dilestarikan. Ada yang menyatakan orang-orang dikaumnyalah yang paling hebat, paling berkuasa, sehingga orang lain menjadi tidak dihormati, saling menjatuhkan, saling cemburu dan bermusuhan. Hal inilah pemicu timbulnya perpecahan, tidak ada rasa syukur hingga menjadi konflik yang berkepanjangan.
Manusia selain sebagai makhluk individu sekaligus sebagai makhluk sosial, yangtidak akan terlepas dari kehidupan bermasyarakat. Untuk menciptakan kehidupan yang tentram dan damai maka kita harus menjaga hubungan yang harmonis yang dalam ajaran Agama Hindu disebut dengan Tri Hita Karana, yaitu hubungan yang harmonis antara manusia dengan Sang Pencipta, antara manusia dengan sesama manusia, begitu pula antara manusia dengan lingkungan alam.
Selain itu, upaya untuk mewujudkan tatanan hidup yang bahagia dan sejahtera dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya dengan memahami dan menerapkan ajaran Tri Parartha yakni asih, punya dan bhakti.
Selanjutnya saya akan menyampaikan tentang apa arti dan makna dari Tri Parartha tersebut. Tri berarti tiga, Parartha berart ikesempurnaan, kebahagiaan, keselamatan, kesejahteraan, keagungan, dan kesukaan hidup umat manusia. Secara semantik Tri Parartha adalah tiga prihal yang dapat menyebabkan terwujudnya kesempurnaan, kebahagiaan, keselamatan, kesejahteraan, keagungan, dan kesukaan hidup umat manusia. Adapun tiga prihal yang dimaksudkan tersebut, diantaranya:

  1. Asih
    Asih berarti cinta kasih atau kasih sayang. Kita mulai mencintai diri sendiri, mencintai sesama dan mencintai alam lingkungan sekalipun kita berbeda.Melalui perbedaan ini akan memunculkan saling introspeksi satu sama lain. Karena tidak satupun manusia diciptakan sempurna. Ketika kita mencintai diri sendiri, sudah tentu pikiran, perkataan dan perbuatan kita jaga, itulah sesungguhnya pengendalian indria yang diungkap dalam ajaran Tri Kaya Parisudha. Cinta kasih juga dapat kita temukan dalam konsep Tat Twam Asi dengan hakekatnya bermuara dari kasih sayang yang diaktualisasikan kedalam bentuk sikap yang memandang segala makhluk adalah sama, “vasudaiva kutumbakam”. Andai saja cinta kasih yang dimiliki setiap manusia dipelihara dan diarahkan dengan baik, meskipun kita berbeda, kita akan temui ketentraman dan kedamaian itu. Cinta kasih dalam pikiran adalah kebenaran, dalam ucapan adalah kejujuran, dalam perbuatan adalah kebajikan, dan cinta kasih dalam perasaan adalah kedamaian. Kitab suci Rgveda, X. 191.4 menyebutkan sebagai berikut:
    “ Samani va akutih, samana hrdayani vah
    Samanam astu vo mano, yatha va susahasati. “
    Terjemahan: Samalah hendaknya tujuanmu, samalah hendaknya hatimu, samalah hendaknya pikiranmu, dengan demikian semoga semua hidup bahagia bersama – sama.
  2. Punya
    Punya berarti dermawan, tulus dan ikhlas. Dalam Yajurveda XL.1 disebutkan sebagai berikut:
    “ Īsā vāsyam idam śarvam yat kim ca,
    jagatyām jagat tena tyaktena,
    bhuñjῑthā mā gadhah
    kasya svid dhanam”

Terjemahan: Semestinya dipahami bahwa segalanya diresapi oleh Ida Sang Hyang Parama Kawi, segala yang bergerak dan yang tak bergerak dialam semesta ini. Hendaknya, orang tidak terikat dengan berbagai kenikmatan dan tidak rakus serta menginginkan milik orang lain”.
Punya dalam arti luas juga termasuk pelayanan, dalam bahasa Sansekerta disebut dengan sevanamdan dalam bahasa Bali diidentikkan dengan kata ngayah atau melayani. Berpunia terhadap sesama ciptaan-Nyasekalipun antara satu dan yang lainnya tidaklah sama. Perbedaan ini dimaksudkan agar kita mengetahui kelemahan dan kelebihan masing-masing, sehingga bisa untuk saling tolong menolong. Danketika kita memberikan pertolongan baik berupa jasa ataupun materi, agar didasari olehketulusan dan keiklasan tanpa mengharapkan suatu imbalan.

  1. Bhakti
    Bhakti artinya hormat, sujud kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa karena Ialah yang menciptakan semua ini dan yang akan memberi kita keselamatan. Pustaka suci Ṛgveda X.7.3 menyebutkan sebagai berikut:
    “ Agniṁ manye pitaram agnim āpim agniṁ bhrātaraṁ sadami sakhāyam, agner anῑkaṁ bṛhatah saparyaṁ divi śukraṁ yajataṁ sūryasya“
    Terjemahan: Tuhan Yang Maha Kuasa yang kami yakini sebagai bapak kami, ibu kami, sanak saudara dan keluarga kami, kami puja Engkau sebagai yang memiliki wajah yang agung, sinar suci Surya di langit.

Walaupun berbeda gelar yang diberikan kepada-Nya, berbeda tata cara untuk bersujud dan berbhakti terhadap-Nya, namun ialah yang esa, ekam sat viprah bahuda vadanti. Begitu pula halnya kepada sesama manusia kita harus saling hormat menghormati, harga menghargai karena dihadapan-Nya kita semua sama, yang membedakan hanyalahamal perbuatan yang kita lakukan.
Asih, punya dan bhakti adalah ajaran agama yang patut dijadikan pedoman untuk menumbuhkan sikap mental masing – masing pribadi agar tidak terikat oleh pengaruh benda duniawi. Cinta kasih melandasi segalanya, kita melaksanakan punya karena cinta kasih dan berbhakti pula atas dasar kasih sayang. Dengan mengamalkannya senantiasa mampu menciptakan keharmonisan dan kedamaian, sesuai tujuan Agama Hindu yakni: Moksartam Jagadhitaya Ca Iti Dharma.

Sebagai kesimpulan dari dharma wacana saya, bahwa perbedaan sebagai wahana untuk saling introspeksi diri, mengetahui kekurangan dan kelebihan masing-masing sehingga menimbulkan suatu interaksi, hubungan timbal balik antar sesama, bukan untuk memecah melainkan untuk penyatuan.

Yakni dengan menjadikan ajaran Tri Parartha sebagai pondasinya.
1) Asih, yaitu cinta kasih kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta semua ciptaan-Nya dalam kehidupan yang paras paros sarpa naya salunglung sabayan taka.
2) Punya, yaitu dermawan, tulus dan ikhlas. Ketika hidup berdampingan selalu saling tolong menolong baik berupa jasa maupun materi tanpa mengharapkan suatu imbalan.
3) Bhakti, yaitu sujud kehadapan Tuhan Yang Maha Esa, serta saling menghormati dan menghargai antar sesama ciptaan-Nya.

Janganlah memandang pluralisme seperti memandang satu sisi mata uang yang hanya dapat kita lihat dari satu sisinya saja, tetapi pandanglah pluralisme layaknya memandang hamparan laut yang luas dengan karang dan bebatuan yang kita ibaratkan sebagai baik buruknya suatu perbedaan.
Jadi orang yang dapat bersyukur dengan hadirnya pluralisme adalah orang-orang yang memiliki cinta di hatinya. The colour of world, bukan warna merah, kuning, hijau seperti yang kita kenal, tetapi agama yang berbeda, suku bangsa yang berbeda, cara pandang yang berbeda, adat istiadat serta budaya yang berbeda yang mewarnai seisi dunia. Tidak ada pelangi yang indah hanya dengan satu warna.
Demikian yang dapat saya sampaikan pada kesempatan yang berbahagia ini mengenai Tri Parartha dalam kaitannya dengan kebhinnekaan. Semoga dapat memberikan manfaat dan dijadikan sebagai dasar dalam meniti kehidupan di dunia ini. Apabila ada hal – hal yang kurang berkenan mohon dimaafkan, “Tan Hana Wwang Swasta Hayu Nulus” tidak ada manusia yang sempurna.

Om Santih Santih Santih Om

Oleh: I Wayan Sudarma

Pengaduan Telah Kami Terima,
Mohon Menunggu Konfirmasi